Tampilkan postingan dengan label Cerita Mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Mini. Tampilkan semua postingan

05 Desember 2012

Kereta Kencana


Masih tergiang jelas seraut wajah sang pujaan hati yang kala waktu itu berpisah di loket antrian kereta. Mengeras bisik canda tawa wanita tersebut ke dalam sanubari, melukiskan kejadian yang mungkin tak akan dilewatkan kembali untuk yang kedua kalinya.
            Menatap tertegun terpaku asmara  melesat busur sang dewa amor tepat pada jantung hatiku. Gemerlap cahaya menari - nari tuk membujuk sang idaman hati untuk sekedar berkenalan. Beribu asah yang belum tak pernah dia persiapkan bermodalkan tekat bulat menghampiri wanita idaman.
“Hhmm,... Mbak boleh numpang tanya?”
“Iya kenapa mas?” (sambil memandangi dengan angan kecurigaan)
“Kalau beli tiket ke Surabaya dimana ya?”
“Oh,.. Di sebelah sana mas, loket nomor 2 dari kanan.” (dengan jari telunjuknya yang begitu mungil menunjuk ke arah yang dia maksud)
“Oh,.. Yang itu ya mbak, terima kasih ya,..“
“Iya sama-sama mas,..” ^_^
Dengan senyum manis yang menghiasi bibir dan matanya dipenuhi oleh guratan makna kepolosan membuat diriku seakan mati berdiri tertegun, riuh rancak dipersimpangan pikiran melesat ke khayangan.
Antrian panjang tak terasa begitu cepat waktu bergulir, hingga saya melamun pada saat giliran membeli tiket. Kemudian tukang tiket memanggil dengan kesal.
“Mas,.. Mas,..”
Seketika terdengar suara seorang wanita yang begitu merdu terdengar membuatku terlena oleh sebuah lamunan. Antara sadar dan tidak, saya menjawab suara itu.
“Iya,.. ada apa?”
Tak disangka ternyata di sebelah ada wanita yang baru aku tanyain tempat loket tersebut.
Si gadis sambil meringis menahan tawa berkata,
“Jangan ngelamun saja mas, nanti ada copet bisa bahaya..!!”
“Iya mbak maklum banyak pikiran.” Dan aku pun membalas senyumannya.
Tukang loketpun tiba – tiba menghardik “Gimana jadi beli tiket tidak?”
“Berapa pak?”
“Rp. 5.000,- mas,..”
Tuuuttt,… Tuuttt,..
Wanita idaman pun bergegas mengejar kereta kencana yang akan berangkat.
“Saya berangkat dulu ya mas,..”
“Iya mbak hati – hati!”
“Sampai jumpa.”
Sekali lagi si wanita tersebut meninggalkan bekas senyuman di hati.

***

Rumah Nenek



Malam hari yang kian mencekam menambah kegelapan dibalik sinar awan-awan mendung, menyelimuti rembulan yang menjadikan seakan enggan menyinari kesepianku. Ketika genap setahun lalu tetangga yang telah meninggal seorang diri karena dibunuh dekat pohon cemara yang ada di depan rumahnya.
Debu-debu yang telah menumpuk warna putih rumah menjadi berwarna kusam kelabu. Sebuah halaman yang dulunya nampak indah namun sayang kini telah dihiasi oleh rumput-rumput liar dan benalu yang merambat di dinding – dinding rumah si nenek.
Hanya berbekal kilatan petir dan sebuah senter untuk melihat dikala itu listrik telah padam karena kabel putus akibat kejatuhan pohon asam. Dengan langkah kaki penuh kegelisahan menjadikan perjalan nampak begitu jauh.
Bunyi gemiricik hujan menghiasi was – was dalam pikiran.
“duarr..!!!”
Seekor kucing hitam menabrak pintu rumah nenek, dengan rasa penasaran sambil mengarahkan senter kerumah tersebut terdapat dua kilauan cahaya mata kucing berbalutkan bulu gelap yang tajam seakan menerkam mangsa.
“Meoung,..”
“Meeeouunggg,…”
Kemudian saya mengarahkan senter disebelah kucing tersebut ternyata ada kucing yang nampak begitu kurus berhiaskan tiga warna disekujur tubuhnya, dan di sebelahnya lagi terdapat kucing berwarna putih mulus.
Kedua kucing tersebut seakan mau menyerang kucing hitam tersebut secara bersamaan, sahut menyahut sesama kucing tersebut,..
“Meoouuung,..” (sedikit menggeram)
“Astagfirullah, Alloh Akbar..!!!” (terkejut melihat jendela rmah nenek)
Tak kusangka ternyata masih ada lagi satu kucing menatap diriku dibalik sebuah jendela rumah tersebut, dengan penuh dendam amarah yang tak terbendung dimatanya, dia menatapku tanpa henti, kemudian aku pun segera bergegas untuk segera meninggalkan rumah tersebut untuk membeli lilin dan sebungkus rokok di warung seberang jalan.

***

¿ Gila atau Waras ?




 
Suatu ketika ada seorang yang bernama Paijo bertemu dengan yang namanya wisdar mereka adalah teman lama yang tak pernah bertemu mereka dikala itu diundang acara sebuah reuni namun si wisdar tidak datang,
kemudian si Paijo bertanya-tanya : "ada apakah gerangan hingga dia tidak datang ke acara seperti ini padahal aku sangat berharap sekali dengan kedatanganmu."
Dengan rasa cemasnya dia mencoba untuk menghubunginya tapi alangkah disayangkan usahanya masih belum bisa, Paijo menanyakan kepada teman-teman yang lainnya namun tak memberikan jawaban yang memuaskan darinya ketika disebuah mall dia bertemu dengan orang yang berpakaian serba ga' karuan  rambutnya pun acak-acakan seperti orang yang tidak pernah mandi selama setahun, sangg Paijo sedikit was-was dan merasa ketakutan namun dia memberanikan diri untuk melewati orang tersebut.
Ketika dia mencoba untuk melewatinya orang aneh itu menabraknya dengan tidak sengaja.
Paijo berkata : " maaf pak !! "
orang aneh : " maaf-maaf enak saja kalau bilang, matamu kau taruh dimana. "
Paijo : " ya dikepala donk, apakah situ tidak lihat ?"
orang aneh : " kalo kamu punya mata kenapa tidak digunakan, buktinya kamu tidak melihat aku.  "
Paijo : " ini saya gunakan, melihat anda. "
orang aneh : " walaupun matamu ada dikepala tapi otakmu tidak dipakai sebagaimana mestinya. "
Paijo : " apa maksud bapak ? "
dalam hati sambil berkata : " dasar orang gila ngomong sembarangan. "
orang aneh : " berjalan kesana kemari tanpa tujuan, tapi tak memperhatikam sekitarnya."
Paijo : " sudahlah pak saya tidak ada waktu utk mendengarkan ocehan orang gila seperti bapak. "
Orang aneh : " Ketika kamu menganggap saya waras berarti saya tidak ingin gila dan jika kamu menganggap saya gila berarti saya memiliki kesempatan untuk waras, zaman sudah gila orang-orangnya pun ikut gila, siapa yang waras jadi orang gila tapi siapa yang tidak gila berarti dia tidak waras. Banyak orang mempertahankan segalanya dengan kegilaannya namun sedikit sekali orang yang sadar atas kegilaannya itu. seandainya kamu waras tidak akan mengerti orang gila, tapi kalau kamu ngerti akan perkataanku kamu juga termasuk gila karena mau mendengarkan perkataan orang gila, sangat disayangkan menganggap orang lain gila tapi kamu sendiri gila,.. ^_^ ”
dalam hati sambil berkata Paijo berkata : "waduh aku koq dikatakan gila sama orang gila padahalkan aku tidak gila"
terus dia berkata pada orang gila itu :  " terima kasih atas petuahnya ya pak,.. ^_^ "
orang gila : “ kenapa harus berterima kasih kepadaku, berterima kasihlah kepada tuhanmu karena dia telah menyadarkanmu dari kegilaanmu dan saya tetap menjadi gila karena saya pingin jadi orang waras, bukan seperti kamu yang gila dalam kegilaanmu.”
Paijo : “ Okey pak Assalamualaikum Wr.Wb. ”
Orang aneh : “ Walaikum salam Wr.Wb. “
Sambil berjalan dia berpikir : “ siapakah orang gila tersebut? Koq bs berpikir seperti itu kepadaku. “
Kemudian dia memutuskan untuk kembali menemui orang gila yang ditengah jalan tadi dan dia bertemu kembali orang gila tersebut.
Orang aneh : “ ada apa lagi orang gila mau menemuiku? “
Paijo : “ Ga pa2 pak saya cuman mau tanya siapa bapak sebenarnya?”
Orang aneh : “ waduh kayaknya kamu sudah gila? “
Paijo : “ Koq bisa gitu pak? “
Orang aneh : " Apakah kamu sudah lupa bahwa aku ini orang gila kenapa kamu bertanya pada orang gila, benar2 sudah gila kamu itu. Pergi sana aku ga' mau bertemu dengan orang gila seperti kamu yang telah mengganggu kegilaanku, cepat pergi. "
Paijo sambil berpikir : " waduh mumpung msh belum ngamuk, orang gilanya bisa gawat. "
Paijo : " iya pak saya pergi sekarang. "
orang aneh : " Nah gitu donk, ga' tau orang lagi asyik dengan kegilaan malah diganggu, dasar orang gila lho."
Paijo : " Selamat pagi pak."
Orang aneh : " malam juga. "
Paijo : “ waduh, dasar orang aneh,.. ^_^ “
Saking asyiknya ditengah jalan ga' terasa sudah sampe rumah temannya,
kemudian Paijo berkata : " saya mengingatnya dan saya akan menuliskan cerita tadi untukmu sahabat terbaikku."
Mohon maaf bila ada kesamaan nama dan kesamaan kejadian itu berarti bukan berarti disengaja melainkan ini hanya sebuah cerita fiktif yang diangkat oleh adanya realita di zaman postmodern ini.

***
 
School Pencil