Masih tergiang jelas seraut wajah sang
pujaan hati yang kala waktu itu berpisah di loket antrian kereta. Mengeras
bisik canda tawa wanita tersebut ke dalam sanubari, melukiskan kejadian yang
mungkin tak akan dilewatkan kembali untuk yang kedua kalinya.
Menatap
tertegun terpaku asmara melesat busur
sang dewa amor tepat pada jantung hatiku. Gemerlap cahaya menari - nari tuk
membujuk sang idaman hati untuk sekedar berkenalan. Beribu asah yang belum tak
pernah dia persiapkan bermodalkan tekat bulat menghampiri wanita idaman.
“Hhmm,...
Mbak boleh numpang tanya?”
“Iya
kenapa mas?” (sambil memandangi dengan angan kecurigaan)
“Kalau
beli tiket ke Surabaya dimana ya?”
“Oh,..
Di sebelah sana mas, loket nomor 2 dari kanan.” (dengan jari telunjuknya yang
begitu mungil menunjuk ke arah yang dia maksud)
“Oh,..
Yang itu ya mbak, terima kasih ya,..“
“Iya
sama-sama mas,..” ^_^
Dengan
senyum manis yang menghiasi bibir dan matanya dipenuhi oleh guratan makna
kepolosan membuat diriku seakan mati berdiri tertegun, riuh rancak
dipersimpangan pikiran melesat ke khayangan.
Antrian
panjang tak terasa begitu cepat waktu bergulir, hingga saya melamun pada saat
giliran membeli tiket. Kemudian tukang tiket memanggil dengan kesal.
“Mas,..
Mas,..”
Seketika terdengar suara seorang wanita
yang begitu merdu terdengar membuatku terlena oleh sebuah lamunan. Antara sadar
dan tidak, saya menjawab suara itu.
“Iya,..
ada apa?”
Tak
disangka ternyata di sebelah ada wanita yang baru aku tanyain tempat loket
tersebut.
Si
gadis sambil meringis menahan tawa berkata,
“Jangan
ngelamun saja mas, nanti ada copet bisa bahaya..!!”
“Iya
mbak maklum banyak pikiran.” Dan aku pun membalas senyumannya.
Tukang
loketpun tiba – tiba menghardik “Gimana jadi beli tiket tidak?”
“Berapa
pak?”
“Rp.
5.000,- mas,..”
Tuuuttt,…
Tuuttt,..
Wanita
idaman pun bergegas mengejar kereta kencana yang akan berangkat.
“Saya
berangkat dulu ya mas,..”
“Iya
mbak hati – hati!”
“Sampai
jumpa.”
Sekali lagi si wanita tersebut meninggalkan
bekas senyuman di hati.
***


